Selasa, 07 April 2020

COVID-19 Ditetapkan Sebagai Pandemi, Apa Artinya?

Bermula dari kota Wuhan di Tiongkok, virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) menyebar ke berbagai negara di dunia dan menyebabkan timbulnya penyakit COVID-19 di mana-mana.
Pada 11 Maret 2020, WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi. Kondisi ini jelas tidak boleh diremehkan karena hanya ada beberapa penyakit saja sepanjang sejarah yang digolongkan sebagai pandemi.

Apa itu pandemi?

Pandemi adalah sebuah epidemi yang telah menyebar ke beberapa negara atau benua, dan umumnya menjangkiti banyak orang. Sementara, epidemi merupakan istilah yang digunakan untuk peningkatan jumlah kasus penyakit secara tiba-tiba pada suatu populasi di area tertentu.
Istilah pandemi tidak digunakan untuk menunjukkan tingkat keparahan suatu penyakit, melainkan hanya tingkat penyebarannya saja. Dalam kasus saat ini, COVID-19 menjadi pandemi pertama yang disebabkan oleh virus corona
Sebelum adanya pandemi tersebut, telah terjadi berbagai pandemi influenza di dunia. Di mana salah satunya adalah flu babi yang merebak pada tahun 2009. Penyakit ini terjadi ketika strain influenza baru (H1N1) menyebar ke seluruh dunia. 
Sementara itu, kasus pandemi influenza terparah di dunia terjadi saat pandemi flu Spanyol pada tahun 1918, yang menyebabkan 50 juta kematian di seluruh dunia. 

Fase pandemi

WHO pun memiliki fase pandemi yang mungkin dapat menjadi gambaran bagi pandemi COVID-19. Beberapa fase atau tahapan di mana suatu penyakit bisa dinyatakan sebagai suatu pandemi adalah sebagai berikut:
  • Fase 1
Pada fase ini, tak ada virus yang beredar di antara hewan dapat menyebabkan infeksi pada manusia.
  • Fase 2
Fase 2 ditandai dengan adanya virus yang beredar di antara hewan yang diketahui dapat menyebabkan infeksi pada manusia sehingga dianggap sebagai potensi ancaman pandemi.
  • Fase 3
Dalam fase 3, virus yang disebabkan dari hewan atau hewan-manusia menyebabkan beberapa kasus secara sporadis atau menjangkiti sekelompok kecil orang. Namun, belum cukup untuk menetapkannya sebagai wabah di masyarakat. Penularan dari manusia ke manusia pun masih terbatas.
  • Fase 4
Pada fase ini, penularan virus dari manusia ke manusia atau dari hewan ke manusia semakin banyak sehingga menyebabkan terjadinya wabah. Ini juga menunjukkan peningkatan yang signifikan terhadap risiko pandemi.
  • Fase 5
Pada fase ini, penyebaran virus dari manusia ke manusia telah terjadi setidaknya pada dua negara di satu wilayah WHO. Sebagian besar negara tak akan terpengaruh pada tahap ini, namun ini menjadi sinyal yang kuat bahwa pandemi sudah dekat dan implementasi dari langkah-langkah mitigasi yang direncanakan semakin singkat.
  • Fase 6
Fase 6 merupakan fase yang ditandai dengan wabah semakin meluas ke berbagai negara di wilayah WHO. Fase ini juga menunjukkan bahwa pandemi global sedang berlangsung.
Lamanya setiap fase bisa berbeda-beda, mungkin bisa berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Selain itu, tak semua kasus bisa mencapai fase 6 karena mungkin telah berkurang di fase-fase sebelumnya. Akan tetapi, setelah ditetapkan sebagai pandemi, tentu saja perlu pengendalian sesegera mungkin agar tingkat penyebaran dan keparahan penyakit tidak semakin tinggi. 

Menghadapi pandemi COVID-19

Setelah ditetapkannya pandemi COVID-19, tentu saja negara-negara yang telah terjangkit harus melakukan berbagai upaya untuk menghentikannya. Seperti dilansir dari Healthline, Direktur Jenderal WHO, Tedros Ghebreyesus menetapkan empat hal utama yang harus dilakukan oleh suatu negara, yaitu:
  • Mempersiapkan dan bersiap
  • Deteksi, lindungi, dan rawat
  • Kurangi penyebaran
  • Inovasi dan belajar.
Ia meminta semua negara untuk meningkatkan mekanisme tanggap darurat corona dan memberitahu para warga negara agar dapat melindungi dirinya sendiri dari virus corona. Selain itu, para pejabat kesehatan juga diinstruksikan untuk menemukan, mengisolasi, menguji, dan menangani setiap kasus COVID-19. Mempersiapkan rumah sakit dan memastikan perlindungan pada petugas kesehatan untuk menangani virus corona baru, juga sangat diperlukan.
Tedros juga menghimbau masyarakat untuk tidak panik dan selalu ikuti berbagai cara untuk mencegah penyebaran virus corona dengan melakukan social distancing, menggunakan desinfektan ketika menyentuh suatu permukaan, rutin mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer, menggunakan masker ketika sakit, serta tidak menyentuh wajah.
Di Indonesia sendiri, Presiden Joko Widodo telah menghimbau untuk melakukan aktivitas di rumah saja untuk mencegah penyebaran virus ini. Bahkan di beberapa negara lain, seperti Italia dan Malaysia, mengimplementasikan lockdown untuk menekan angka penyebaran virus. 

Jumat, 31 Januari 2020

Artikel Sejarah Badminton


Apa Sejarah Badminton Di Dunia ?



Asal Usul Badminton 


Badminton adalah nama dari sebuah rumah istana milik Duke of Beafourt di Inggris di daerah Gloucestershire di sebelah barat Kota London, Inggris. Berawal dari nama tempay inilah, Olahraga Badminton di kenal mulai dari kalangan atas, menyebar ke seluruh masyarakat hingga seluruh dunia seperti yang di kenal saat ini.
Organisasi olahraga yang menaungi Bulu Tangkis dunia adalah Internasional Federasi Bulu Tangkis ( IBF )yang berdiri pada tahun1934 yang nantinya berganti nama menjadi Badminton World Federation ( BWF ).

Sejarah Badminton Di Indonesia 

Di Indonesia sendiri, olahraga badminton mulai ada mulai sejak tahun 1930-an.Ikatan Sport Indonesia (ISI) yang berjasa menaungi Bulu Tangkis pada masa itu.Bulu Tangkis pun semakin Berkembang pada masa setelah kemerdekaan Indonesia.Dan pada 1947, terbentuklah Persatuan Republik Indonesia (PORI).

1.Terbentuknya Persatuan Bulu Tangkis Indonesia

Setelah Terbentuknya PORI, Organisasi khusus Bulu Tangkis pun Terbentuk, yaitu Persatuan Bulu Tangkis seluruh Indonesia (PBSI) pada tanggal 5 Mei 1951. Tim Bulu Tangkis pernah berpartisipasi dalam IBF sekitar tahun 1953 dan pada tahun 1958 Indonesia mengikuti Kejuaraan Piala Thomas yang diselenggarakan di Singapura.

2.Indonesia Mulai Diperhitungkan di Mata Dunia

Dalam sejarah Bulu Tangkis, di ear 1950-an, Negara Amerika, Denmark, Inggris, Malaysia, dan Thailand menjadi Tim Bul u Tangkis terkuat pada masa itu. Akan tetapi, Indonesia justru tampil membanggakan dengan penampilan yang membuat tab Joe Hook dan Ferry Sonnevile masuk ke "All Indonesian Final".
Meski saat itu, Indonesia termasuk negara sedang berada dalam masa sulit dan tidak ada pendanaan melimpah untuk pembinaan olahraga bulu tangkis.
Prestasi Bulu Tangkis Di Indonesia

Beberapa Prestasi pun ditunjukkan oleh tim bulu tangkis Indonesia pada masa keajayaannya di tahun 1960 hingga 1970-an. Pada 1961, Indonesia berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Denmark di piala Thomas di Tokyo, Jepang.

1.Kemunculan Pemain Legenda Indonesia

Pada masa ini juga muncul beberapa pemain yang melegenda. Salah satunya Rudy Hartono yang namanya berhasil mencatat di Guinness Book of World Records yang menjadi pemegang Juara All-England. Selain itu, pemain ganda putra Indonesia, Tjuntjun dan Johan Wahyudi berhasil merebut Juara ganda putra 6 kali. 
Sayangnya, Indonesia pernah gagal pada Piala Thomas yang di selenggarkan di tuan sendiri yaitu di jakarta ( 1967 ). Tetapi, Indonesia dapat membalas kekalahan pada Piala Thomas di Negeri seberang yaitu Kuala Lumpur, Malaysia.

2. Persaingan Dengan Bulu Tangkis China

Di tahun1980, China mulai menjadi saingan terberat dan pada ajang All England, Liem Swie King  mewakili Indonsia hanya mampu menjadi Juara pada tahun 1981. Selanjutnya, pada ajang Piala Thomas tim Indonesia hanya mampu memenangkan pertandingan di Piala Thomas 1984 di Kula Lumpur.

3. Mendali Emas Badminton Pertama Indonesia
baru pada 1990 hingga 2000, Indonesia Kembali bangkit dengan mencetak sejarah baru di tahun 1992 pada Olimpiade Barcelona. Untuk pertama kalinya Indonesia berhasil memenangkan Mendali Emas. 
Bulu Tangkis menyumbang 2 emas, 2 perak dan 1 perunggu. Selain itu, 1 Mendali emas dan 2 perunggu berhasil diraih oleh Ganda Putra Rexy Mainaky dan Ricky Subagja di Olimpiade Atlanta pada 1996.

4. Juara di Piala Thomas dan Uber

Selain Olimpiade, Tim Bulu Tangkis Indonesia juga gigih di berbagai Piala bergengsi lainnya. Piala Thomas diraih 5 kali berturut-turut pada 1994 hingga 2002. Sementara itu, Ardi Wiranata di tahun 1991 dan Haryanto Arbi di tahun 1993 dan 199, meraih Juara sebanyak 3 kali.
Pada Kompetisi Piala Uber, Indonesia berhasil menang 2 kali, yaitu pada 1994 dan 1996.

Sejarah Badminton Di Dunia

COVID-19 Ditetapkan Sebagai Pandemi, Apa Artinya? Bermula dari kota Wuhan di Tiongkok, virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) menyebar k...

Sejarah Badminton